Kata “remaja” berasal dari bahasa
latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko,
1984 dalam Rice, 1990). Masa remaja adalah periode di mana seseorang
mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan
sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel
(1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam
menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka,
misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb
Ciri-ciri
Masa Remaja
1.
Peningkatan emosional
2.
Perubahan yang cepat secara fisik yang juga
disertai kematangan seksual.
3.
Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya
dan hubungan dengan orang lain
4.
Perubahan nilai
5.
Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam
menghadapi perubahan yang terjadi.
Definisi
Moral
Istilah moral berasal dari kata Latin “mos” (moris) yang berarti
adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tata cara kehidupan.
Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan,
nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral.
Nilai-nilai moral itu, seperti seruan untuk berbuat baik kepada
orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan, dan
memelihara hak orang lain, serta larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum
minuman keras dan berjudi.
Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang
tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok
sosialnya.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh
lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama
dari orangtuanya. Dia belajar untuk mengenal nlai-nilai dan berprilaku sesuai
dengan nilai-nilai tersebut. Dalam mengembangkan nilai moral anak, peranan
orangtua sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil. Beberapa
sikap orang tua yang perlu diperhatikan sehubungan dengan perkembangan moral
anak , diantaranya sebagai berikut :
·
Konsisten dalam mendidik anak
·
Sikap orangtua dalam keluarga
·
Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut
·
Sikap konsisten orangtua dalam menerapkan norma
Perkembangan
Nilai Pada Masa Remaja
Menurut Sutikna (1988:5), nilai adalah norma-norma yang berlaku
dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan-santun. Menurut Spranger ,
dikutip oleh Sunaryo Kartadinata (1988), nilai merupakan suatu tatanan yang
dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternative
keputusan dalam situassi social tertentu. Jadi, nilai itu merupakan :
1.
Sesuatu yang diyakini kebenarannya dan
mendorong orang untuk mewujudkannya.
2.
Produk social yang diterima sebagai milik
bersama dengan kelompoknya.
3.
Sebagai standar konseptual yang relative
stabil yang membimbing individu dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam rangka
memenuhi kebutuhan psikologisnya.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Nilai adalah suatu ukuran atau parameter terhadap suatu obyek
tertentu Nilai dapat diartikan sebagai ukuran baik atau buruknya
sesuatu. Bisa juga diartikan sebagai harga (value) dari sesuatu. Nilai-nilai
kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya, adat
kebiasaan dan sopan santun (sutikna, 1988:5). Beberapa factor yang mempengaruhi
perkembangan nilai ada masa remaja adalah sebagai berikut :
·
Diri Sendiri
·
Teman/Orang Terdekat
·
Pergaulan
·
Teknologi
Perkembangan Agama Pada Masa Remaja
Masa remaja adalah masa bergejolaknya bermacam-macam perasaan
yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain. Kondisi ini menyebabkan
terjadinya perubahan emosi yang begitu cepat dalam diri remaja,,seperti
ketidakstabilan perasaan remaja kepada Tuhan/Agama.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Adams dan Gullotta
(1983), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang
mampu membandingkan tingkah lakunya, agama dapat menstabilkan tingkah laku dan
bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia ini,
agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah
mencari eksistensi dirinya.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Ø Ajaran agama yang mereka terima.
Ø Cara penerapan ajaran agama.
Ø Keadaan lembaga-lembaga keagamaan.
Ø Para pemuka agama
Menurut analisis yang
dilakukan W.Starbuck, keraguan itu disebabkan oleh factor:
1.
Kepribadian
Tipe kepribadian dan jenis kelamin, bisa menyebabkan remaja
melakukan salah tafsir terhadap ajaran agama.
·
Bagi individu yang
memiliki kepribadian yang introvert, ketika mereka mendapatkan
kegagalan dalam mendapatkan pertolongan Tuhan, maka akan menyebabkan mereka
salah tafsir terhadap sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Tuhan.
Misalnya: Ketika
berdoa’a tidak terkabul,,maka mereka akan menjadi ragu akan kebenaran sifat
Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang Tuhan tersebut. Kondisi ini akan sangat
membekas pada remaja yang introvert walau sebelumnya dia taat beragama.
·
Untuk jenis kelamin
Wanita yang cepat
matang akan lebih menunjukkan keraguan pada ajaran agama dibandingkan pada
laki-laki cepat matang.
2.
Kesalahan Organisasi Keagamaan dan Pemuka Agama
Kesalahan ini dipicu oleh “dalam kenyataannya,,terdapat
banyak organisasi dan aliran-aliran keagamaan”. Dalam pandangan remaja hal
itu mengesankan adanya pertentangan dalam ajaran agama. Selain itu remaja juga
melihat kenyataan“Tidak tanduk keagamaan para pemuka agama yang tidak
sepenuhnya menuruti tuntutan agama”.
3.
Pernyataan Kebutuhan Agama
Pada dasarnya manusia memiliki sifat konservatif (senang dengan
yang sudah ada),, namun disisi lain,,manusia juga memiliki dorongan curiosity
(dorongan ingin tahu).
Kedua sifat bawaan ini merupakan kenyataan dari kebutuhan
manusia yag normal. Apa yang menyebabkan pernyataan kebutuhan manusia itu
berkaitan dengan munculnya keraguan pada ajaran agama?
Dengan dorongan Curiosity, maka remaja akan terdorong untuk
mempelajari/mengkaji ajaran agamanya. Jika dalam pengkajian itu terdapat
perbedaan-perbedaan atau terdapat ketidaksejalanan dengan apa yang telah
dimilikinya (konservatif) maka akan menimbulkan keraguan.
4.
Kebiasaan
Remaja yang sudah terbiasa dengan suatu tradisi keagamaan yang
dianutnya akan ragu untuk menerima kebenaran ajaran lain yang baru diterimanya/dilihatnya.
5.
Pendidikan
Kondisi ini terjadi pada remaja yang terpelajar. Remaja yang
terpelajar akan lebih kritis terhadap ajaran agamanya. Terutama yang banyak
mengandung ajaran yang bersifat dogmatis. Apalagi jika mereka memiliki
kemampuan untuk menafsirkan ajaran agama yang dianutnya secara lebih rasional.
6.
Percampuran Antara Agama dengan Mistik
Dalam kenyataan yang ada ditengah-tengah
masyarakat,,kadang-kadang tanpa disadari ada tindak keagamaan yang mereka
lakukan ditopangi oleh mistik dan praktek kebatinan. Penyatuan unsur ini
menyebabkan remaja menjadi ragu untuk menentukan antara unsur agama dengan
mistik.
Kesimpulan
Dalam
kehidupan beragama, remaja sudah mulai melibatkan diri ke dalam
kegiatan-kegiatan keagamaan. Remaja sudah dapat membedakan agama sebagai ajaran
dengan manusia sebagai penganutnya diantaranya ada yang shalih dan ada yang
tidak shalih. Pengertian ini memungkinkan dia untuk tidak terpengaruh oleh
orang-orang yang mengaku beragama, namun tidak melaksanakan ajaran agama atau
perilakunya bertentangan dengan nilai agama. Makanya harus ditingkatkan
keyakinan dan ketaatan remaja pada agama. Hal ini sangat dipengaruhi oleh
kemampuan mereka dalam menyelesaikan keraguan dan konflik batin yang terjadi
dalam dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Zakiyah Darajat,
Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, Penerbit Gunung Agung, Jakarta, Cet. VII,
1983.
Drs. H. Abdul Aziz
Ahyadi, Psikologi Agama: Kepribadian Muslim Pancasila, Penerbit Sinar Baru,
Bandung, Cet. II, 1991.
Drs. Jalaluddin Rahmat
Msc, Islam Alternatif, Penerbit Mizan, Bandung, Cet. I, 1986.
Makalah-makalah Ibu
Dra. Susilaningsih MA (dosen Mata Kuliah Psikologi Agama di Fakultas Tarbiyah
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Syamsu Yusuf.
(2002). Psikologi Belajar Agama. Bandung: Maestro.
Singgih Gunarsa.
(2004). Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga. Jakarta:
Gunung Mulia
Tim Pustaka Familia.
(2006). Konsep Diri Positif, Menentukan Prestasi Anak. Yogyakarta:
Kanisius.
Singgih Gunarsa.
(2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta:
Gunung Mulia.
Ali,
Muhammad.2004.Psikologi Remaja : Perkembangan Peserta Didik.Jakarta : PT. Bumi
Aksara.
Komentar
Posting Komentar